Kamis, 09 Agustus 2012

Isu Tsunami Merebak Ribuan Warga Mengungsi

Ambon - Ribuan warga dari Teluk Ambon Baguala hingga Desa Suli dan Tial, Kecamatan Salahutu, Selasa (7/8) malam, panik dan mengungsi ke daerah yang lebih tinggi.

Warga panik dan ketakutan lantaran air laut di kawasan pantai Teluk Ambon Baguala Selasa (7/8) tiba-tiba surut dari pukul 22.00 hingga 03.30 WIT.


Informasi yang diterima Siwalima, peristiwa terjadinya air surut tersebut awalnya diketahui seorang nelayan asal Desa Suli, Ronald Suitella.

Saat itu, Ronald sementara melaut. Ia kaget, dengan air laut yang tiba-tiba surut padahal dirinya sudah berada di laut yang jaraknya kurang lebih 1,5 kilo meter dari Pantai Suli.

“Saya sudah melaut kurang lebih tiga tahun namun tidak seperti biasanya hal ini terjadi, sayapun panik dengan melihat air surut yang sangat jauh, sehingga saya langsung bergegas kembali ke darat dan menginformasikan kepada masyarakat sekitar,” terangnya.

Informasi yang diceritakan Ronald dalam hitungan menit menyebar ke warga di desa-desa lainnya, bahkan hingga ke Kecataman Teluk Ambon Baguala. Tanpa berpikir panjang, warga langsung mencari tempat yang lebih tinggi karena merebak isu akan terjadinya tsunami.

Pantauan Siwalima, sejumlah mobil truk dan puluhan kendaraan roda dua yang mengangkut warga dan barang-barang seadanya menuju ke Kawasan Benteng Karang, Desa Passo untuk mencari perlindungan.

Salah satu warga Desa Passo, Tina Rahayaan mengaku, dirinya panik, karena baru saja mengalami bencana banjir pada Rabu (1/8) lalu.

“Saya panik dan takut sehingga untuk mencegahnya lebih baik kita mengungsi,” ujarnya. 

Hingga pukul 05.00 WIT, peristiwa tsunami seperti yang diisukan tidak terjadi. Masyarakatpun mulai kembali ke rumahnya masing-masing.

Fenomena Alam

Sementara itu, Kepala Stasiun Badan Meteorlogi Geofisika (BMG) Ambon Abraham Mustamu yang dikonfirmasi wartawan menjelaskan, air surut yang terjadi merupakan fenomena alam, bukan karena gempa tektonik.

“Dengan adanya air surut di sekitar Pantai Teluk Ambon Baguala mungkin disebabkan adanya fenomena alam lainnya bukan karena gempa tektonik,” jelas Mustamu, kepada wartawan, di ruang kerjanya, Rabu (8/8). 

Mustamu menghimbau masyarakat untuk tidak panik, dan tetap waspada terhadap berbagai fenomena alam yang terjadi. (S-16)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar