Wednesday, July 11, 2012

Wakatobi Mendapatkan Sertifikat Cagar Biosfer Bumi dari UNESCO

Keindahan alam Wakatobi yang layak dijaga dan dipelihara
Kendari - Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, resmi menjadi Cagar Biosphir Bumi yang kedelapan di Indonesia.  Sertifikat  Cagar Biosphir Bumi itu telah diterima Bupati Wakatobi, Hugua, di Paris pada Rabu (11/07/2012) pukul 12.00 waktu setempat.

Cagar Biosphir adalah bentuk pengakuan lembaga dunia  UNESCO terhadap  kekayaan Biodiversity dan keunikan kawasan  yang tidak dimilki oleh daerah lain, oleh karenanya maka mutlak masyarakat  dan pemerintah setempat wajib mempertahankanya karena kalau tidak pengakuan tersebut akan dicabut dan akan menjadi kerugian yang tak terhingga bagi daerah dan negara .

Karena itu inti dari Cagar Biosphir adalah untuk jaminan kesejahteraan masyarakat dengan  memanfaatkan  semaksimal mungkin potensi  daerah dengan tetap menjaga kelestarian sumber daya secara berkelanjutan.  Wakatobi  untuk masuk  menjadi Cagar Biospir Bumi dimulai sejak 4 Tahun lalu  (2009)  dan secara konkrit  pada pertemuan Dresden,  27 – 28 Juni 2011,  Bupati Wakatobi  Hugua didampingi Direktur Program MAB  Indonesia, Prof. Dr. Ir. Y . Purwanto serta dari LIPI telah sukses meyakinkan  Secretary MAB  Programme UNESCO,  Mr. N. Ishwaran. “Saat itu ada beberapa dokumen yang harus dilengkapi oleh  pemerintah Wakatobi untuk dinominasikan menjadi Cagar Biosfir Bumi,” kata Hugua.

Selanjutnya pada pertemuan  Advisory Commity MAB Program  (2- 4 April) di Kantor Pusat UNESCO di Paris dimana Wakatobi diwakili oleh  Ketua Bappeda  Mr. Abdul Manan MsC, Wakatobi  telah lulus (lulus tanpa syarat)  menjadi Cagar Biosphir Bumi. 

Dengan demikian Indonesia secara keseluruhan telah mempunyai delapan Cagar Bisphir. Cagar Biosphir yang ke 7 adalah  Giam Siak Kecil – Bukit Batu di Riau tahun 2009 dan Wakatobi masuk ke 8  tahun 2012.

Atas keberhasilan itu, Bupati Hugua mendapat kesempatan menyampaikan  pidato singkat di depan  ratusan utusan negara-negara anggota UNESCO. “Ini pertanda bahwa upaya maksimal pemerintah dan  masyarakat Wakatobi selama kurang lebih 4 tahun telah membuahkan hasil yang manis untuk kesejahteraan masyarakat Wakatobi, Sulawesi Tenggara dan Indonesia,” kata Hugua dalam surat elektroniknya kepada KendariNews.com.

The International Coordination  Council Meeting 24 berlangsung dari tanggal 9 hingga 15 Juli 2012  di Buka oleh  Secretary MAB Program UNESCO Mr. N. Ishwaran, dipimpin Prof. Dr. Boshra B, Salem dari Mesir  selaku pimpinan  International MAB coordination council. 
  
Hari pertama pertemuan, Negara Ghana mengusulkan dan mendesak UNESCO untuk  menjamin kesejahteraan  rakyat lokal di sekitar Cagar Biosphir yang dapat menjamin kelestarian ekosistem dengan  memoblisasi dana secukupnya  dari semua penjuru dunia. Pernyataan yang sama dari  utusan Israel yang menegaskan bahwa daerah Cagar Biosphir secara sadar atau tidak sadar telah menyanggah daerah tetangga, negara tetangga dan negara-negara di dunia dalam hal ketersedian oksigen dan unsur-unsur hayati lainya. 

Oleh karenanya maka semua kabupaten atau daerah Cagar Biosphir sepatutnya mendapatkan dana memadai dari negara tempat Cagar Biosphir berada dan juga  harus mendapatkan peningkatan jaminan dana  yang memadai dari dunia international . Disinilah peran startegis UNESCO dalam memobilisasi sumber daya dunia secara memadai.

Di hari pertama itu pula, Bupati Wakatobi  Ir. Hugua mewakili Indonesia menyampaikan pandangan tentang pentingnya MAB UNESCO melibatkan para  pemimpin politik di daerah baik Bupati/Walikota dan DPRD karena  masa depan Cagar Bisofir sangat ditentukan oleh komitment politik dan komitmen program Pemerintah dan DPRD yang memegam mandat program dan  kuasa anggaran. Hal senada juga diperkuat oleh utusan dari Uni Eropa  yang mengatakan bahwa kesuksesan  Cagar Biosfir  adalah bagaimana peran pemerintah lokal yang diperkuat oleh  pemerintah  nasional  dan masyarakat international (Buttom up), bukan sebaliknya.

Sumber : http://www.kendarinews.com



No comments:

Post a Comment