Tuesday, May 27, 2014

Pulau Weh, Surga Mungil di Ujung Barat Nusantara

Kawasan Sabang Fair dan Teluk Sabang
Keindahan alam yang dimiliki Pulau Weh membuat wisatawan jatuh hati sejak lama. Apalagi, kehidupan bawah lautnya juga menjadi surga bagi para penyelam.

Sejak dulu hingga sekarang Pulau Weh, dengan Sabang sebagai kotanya punya pelabuhan bebas. Jika dahulu kegiatan utamanya bongkar muat barang, sekarang lebih banyak didatangi kapal-kapal wisata dan pesiar.

Alam bawah lautnya sudah sejak lama dikenal para penyelam di seluruh dunia. Kecuali di Anoi Itam yang berpasir hitam, rata-rata pantai di sini berpasir putih. Mayoritas wisatawan mancanegara dari Eropa dan Amerika datang ke Pulau Weh untuk diving ataupun hanya bersantai.

Pedestriannya semakin apik dan enak buat jalan-jalan sore.
Di kawasan Gapang dan Iboih terdapat banyak dive dan snorkeling spot. Tak heran dive center banyak berada di sini. Pantai landai berpasir putih memang tidak panjang. Sebagian besar langsung terjal dan dalam jadi memang sangat memungkinkan untuk melakukan snorkeling.

Airnya sangat bening, biota yang ada di dasar laut bisa terlihat dari atas dek-dek kayu di dive resort yang banyak berdiri di Iboih. Tinggal di sana serasa tinggal di perkampungan penyelam internasional.

Sebaliknya di sepanjang Sumur Tiga sampai Anoi Itam laut dangkal dengan pantai landai berpasir lebih banyak menarik minat orang untuk datang. Wisatawan mancanegara yang menginap di daerah sini kebanyakan hanya ingin bersantai. Menyelam bukanlah tujuan utama.

Wisatawan domestik dan lokal juga banyak datang ke pantai-pantai ini. Di beberapa titik sekarang sudah ada banana boat dan perahu-perahu kecil yang bisa disewa. Di sore hari banyak juga yang berenang di laut.

Bagaimanapun traveler mesti ingat ya, Sabang di Pulau Weh itu termasuk ke dalam Provinsi Aceh yang menerapkan hukum syariah. Jadi berwisata di sini mesti berpakaian sopan. Khususnya perempuan, tidak menggunakan tutup kepala masih diperbolehkan, tapi kalau mau mandi-mandi di pantai sebaiknya hindari pakaian renang yang terlalu terbuka.

Bunker di sekitar kawasan Sabang Fair.
Mengenakan celana panjang longgar merupakan pilihan pakaian yang aman di tempat-tempat publik. Jadi masih bisa mengenakan koleksi celana harem kan?

Kehidupan siang hari seolah berhenti di Kota Sabang dan akan berdenyut kembali mulai sore hingga malam hari. Ternyata itu merupakan warisan budaya pelabuhan bebas zaman dahulu. Nah, bagi traveler yang mau tahu seperti apa kehidupan di Sabang, acara jalan-jalan sebaiknya dimulai di sore hari mulai dari Tugu Sabang Merauke sampai kawasan Sabang Fair.

Di kawasan ini, kita bisa berjalan kaki menyusuri pedestrian di tepi pantai, kalau capek tinggal duduk di salah satu gazebo. Letaknya yang persis menghadap barat menjadikan tempat ini ideal untuk menunggu saat matahari terbenam di Teluk Sabang.

Di sekitar kawasan ini hingga kawasan Jalan Perdagangan wisata kuliner siap menyambut tamu setelah magrib. Salah satu yang patut dicoba adalah mie rebus atau mie kocok ala Sabang dan sate gurita. Suasana tenang, alam nan indah dan makanan yang enak, menjadikan Sabang bagai surga di ujung barat negeri ini.

Sumber : detikTravel

No comments:

Post a Comment