Sunday, January 20, 2013

Menanti Aksi Klimaks “2 Pendekar Dari Timur”

JIBI
Abraham-Samad--Andi-Mallarangeng

Andi Alfian Mallarangeng dan Abraham Samad mungkin tak pernah bermimpi bakal mewarnai sejarah negeri ini. Berangkat dari kampung halaman yang sama di Makassar, dua pria berkumis ini kelak dipertemukan untuk “tidak saling bersahabat” di pentas nasional.

Andi lebih dulu populer dibanding Abraham. Kiprahnya di pentas nasional diawali ketika pria kelahiran Makassar, 14 Maret 1963 ini diminta menjadi anggota Tim Tujuh (1998-1999) yang dipimpin oleh Prof. DR. Ryaas Rasyid.

Tugasnya adalah merumuskan paket Undang-undang Politik yang baru sebagai landasan bagi pemilu demokratis pertama di era reformasi. Tim Tujuh ini juga bertugas merumuskan Undang-undang Pemerintahan Daerah yang baru, sebagai landasan reformasi sistem pemerintahan dengan desentralisasi dan otonomi daerah.

Petualangan Andi di kancah nasional sebenarnya sudah dimulai setahun sebelumnya. Menjelang lengsernya rezim orde baru pada 1998, Putra sulung Andi Mallarangeng Senior ini kerap terlihat di layar kaca.

Kompetensinya sebagai pengamat politikpun tak diragukan lagi. Hampir semua ulasannya menjadi referensi saat itu. Kritis, tegas dan tanpa tedeng aling-aling menjadi ciri khasnya. Di balik segala kiprahnya, suami Vitri Cahyaningsih ini rupanya juga menuai banyak fans terutama kaum ibu.

Wajahnya yang kamera face dengan kumis khasnya membuatnya mudah dikenal. Lebih dari itu, kiprahnya sebagai aktivis juga menuai banyak simpati masyarakat. Tak heran jika ayah tiga anak ini segera melesat di dunia politik dan puncaknya menjabat sebagai menteri pemuda dan olahraga.

Lain Andi lain pula Abraham Samad. Lahir tiga tahun lebih muda dari Andi, 27 November 1966, Abraham lebih banyak berkiprah di kampung halamannya di Makassar.

Ia melakoni profesi sebagai advokat sejak berusia 30 tahun. Untuk menunjang profesi yang digelutinya, Abraham juga mendirikan sebuah lembaga swadaya masyarakat yang diberi nama Anti Coruption Committee (ACC).

LSM ini bergerak dalam kegiatan pemberantasan korupsi, seperti melakukan kegiatan pembongkaran kasus-kasus korupsi, khususnya di Sulawesi Selatan. Dari lembaga inilah nama Abraham kian bersinar di Makassar. Cap advokat galak pun akrab disandangnya.

Dari sisi kompetensi, Andi dan Abraham bisa dikatakan rising star dari Makassar. Sama sama muda dan berada di level tertinggi kancah nasional. Abraham ibarat pendekar hukum sementara Andi adalah pendekar politik dan sosiologi. Setidaknya jika dilihat dari latar belakang pendidikannya.

Abraham sukses menggondol gelar sarjana, paskasarjana dan doktoralnya di Fakultas Hukum Universitas Hasanudin sementara Andi adalah alumnus jurusan Sosiologi, Fisipol Universitas Gadjah Mada Jogja. Andi meraih gelar Doctor of Philisophy di bidang ilmu politik dari Northern Illinois University (NIU) Dekalb, Illinois, Amerika Serikat pada 1997. Di Universitas yang sama, ia juga meraih gelar Master of Science di bidang sosiologi.

Sepulang dari Amerika, Andi mengikuti prefesi sang ayah menjadi dosen di Universitas Hasanudin Makassar. Pada tahap ini, Abraham dan Andi seolah “didekatkan” oleh takdir. Sama sama bernaung dikampus yang sama, kedua pria berkumis ini sukses berkiprah di bidangnya masing masing.

Bedanya, Andi kemudian memilih medan petualangan baru di Jakarta sementara Abraham lebih fokus mengembangkan karir advokatnya di Makassar.Bersama LSM Anti Coruption Committee (ACC) Abrahamconcern membongkar kasus-kasus korupsi di wilayah Sulawesi Selatan.

Sukses di daerah, Abraham pun melenggang ke Jakarta dan terpilih memimpin Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sementara Andi menduduki jabatan prestis sebagai Menpora. Kini, takdir mempertemukan mereka. Sayangnya pertemuan ini bukanlah pertemuan dua “sahabat sekampung” di lingkungan istana melainkan pertemuan menuntaskaan tugas negara.

Abraham bersama KPK harus menuntaskan pemberantasan korupsi dengan menetapkan Andi sebagai tersangka kasus korupsi Hambalang. Sementara Andi harus rela menuntaskan tugasnya sebagai menpora dan memilih bersikap ksatria mundur dari jabatannya.

Bagaimanapun, keberanian dua pria Makassar ini layak mendapat apresiasi.Abraham bersmaa KPK-nya berani mendobrak mitos dengan menetapkan seorang menteri menjadi tersangka, sementara Andi secara gantleman menyatakan siap menjalani proses hukum dan meletakkan jabatanya. Selanjutnya, proses hukumlah yang akan menentukan jalan kebenarannya.

Sumber :  solopos.com/Sumadiyono/juanda

No comments:

Post a Comment